Vaksin Bukanlah Akhir dari Pandemi


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa ditemukannya vaksin bukanlah akhir dari pandemi Covid 19. Warga dunia harus tetap mengadaptasi kebiasaan baru untuk hidup bersama pandemi ini.

“Saya mendengar sepanjang waktu: Vaksin akan menjadi akhir pandemic. Tentu saja tidak!,” ujar Direktur WHO Eropa Hans Klunge kepada AFP.

Ia melanjutkan, vaksin kemungkinan tidak akan membantu semua kelompok manusia di dunia. Vaksin dapat membantu satu kelompok manusia, tapi tidak kelompok yang lain.

“Dan kemudian, jika kami harus memesan vaksin yang berbeda, ini adalah mimpi buruk logostik,” ujar Klunge.

Menurut Klunge, akhir dari pandemi ini adalah ketika kita sebagai komunitas akan belajar bagaimana hidup bersama pandemi ini. Pada akhirnya, semua kembali pada pola hidup kita di dalam masyarakat.

Klunge menambahkan, seiring dengan kemajuan penelitian, pengetahuan tentang virus corona saat ini masih belum sempurna. Sehingga keputusan pemerintah dibuat dengan gambaran tidak lengkap.

“Di sejumlah negara kami melihat situasi politik menimpa para ilmuwan. Di sejumlah negara lain, kami melihat orang-orang meragukan sains dan itu sangat berbahaya,” ujarnya.



Berita bahwa beberapa vaksin Covid-19 kemungkinan besar disahkan di akhir tahun ini, telah memicu banyak kelegaan di seluruh dunia.

Tiba-tiba berbagai rencana tahun 2021 pun membayang di depan mata. Setelah mendapatkan suntikan vaksin, berdamai dengan efek sampingnya yang minimal, kemudian berangkulan dengan setiap orang dan pergi ke tempat konser selama tujuh hari tujuh malam. Begitukah?

Tidak semudah itu. Vaksin Covid-19 bukanlah “peluru perak” untuk pandemi ini, demikian menurut para pakar yang diwawancarai baru-baru ini, mereka akan memberikan panduan kapan sebenarnya pandemi Covid-19 ini akan berakhir.

"Ini benar-benar di luar impian terliar saya bahwa kita memiliki tidak hanya satu tapi dua vaksin yang tampaknya aman dan 94-95% efektif," ujar Dr. Leana Wen M.D., dokter darurat di Universitas George Washington kepada laman Bustle.

"Bila data ini terus konsisten, vaksin-vaksin ini akan membuat perbedaan yang besar, dan kita mungkin bisa membasmi virus corona dalam satu waktu.” Namun vaksin tidak dapat melakukan segala hal.

Kapan pandemi virus corona akan berakhir?




Supaya virus corona bisa hilang, Dr. Wen mengatakan, masyarakat perlu menjangkau apa yang disebut imunitas kelompok (herd immunity), dengan kata lain titik di mana cukup orang-orang mendapatkan vaksinasi sehingga virus ini tidak bisa melewati di antara mereka. Ini secara realistis akan mengakhiri jalan penyebaran bagi Covid-19.

"Sebuah perkiraan menyebutkan, 70% dari populasi tersebut memerlukan vaksinasi,” katanya. "Ini adalah tantangan terbesarnya bahwa dua dosis dibutuhkan untuk satu orang, dan kita harus mendistribusikan ratusan juta dosis untuk negara dengan penduduk terbanyak,” tambahnya.

Begitu juga, tidak mudah untuk memvaksinasi 70% dari populasi. Penting disadari dengan vaksin Covid-19 ini, yaitu tetap akan menyisakan 5% orang-orang yang rentan terinfeksi, karena vaksin ini tidak 100% efektif.

"Bahkan bila kita mengantisipasinya dengan target secara agresif 80% populasi menerima vaksin, ini akan tetap menyisakan satu atau lebih orang yang rentan terhadap Covid-19,” kata Dr. Kathleen Jordan M.D., Wakil Presiden Senior Medical Affairs di layanan medis Tia, kepada Bustle.

Vaksin Covid-19 kemungkinan besar mirip dengan vaksin flu, di mana penyuntikan tidak hanya sekali.

“Kita tidak tahu berapa lama imunitas bertahan, dan suntikan selanjutnya mungkin diperlukan,” kata Dr. Wen.

Dari pengembangan vaksin Pfizer, Moderna dan perusahaan farmasi lain belum diketahui berapa lama produk mereka akan tetap efektif. Kepala BioNTech, perusahaan yang bermitra dengan Pfizer untuk mengembangkan vaksinnya, mengatakan pada November lalu dia berharap vaksinnya akan bertahan dalam waktu setahun, namun tidak bisa begitu saja bicara tanpa disertai data.

Penyebaran tanpa gejala juga harus diperhatikan. Vaksin yang sekarang tengah dievaluasi hanya diujicoba pada orang yang menunjukkan gejala Covid-19.

Ini berarti para ilmuwan tidak tahu apakah vaksin ini menghentikan kasus orang tanpa gejala. Karena banyak kasus Covid-19 tanpa menunjukan tanda-tanda penyakit, menurut studi berkisar antara 15% dan 80%.

Bahkan jika anda orang pertama yang menjalani vaksin Covid-19, para pakar menasihati jangan mengubah kebiasaan sampai para peneliti mengetahui banyak mengenai dampak jangka panjangnya.

Dr. Jordan menghimbau tetaplah di rumah bila mendapati tanda-tanda sakit, terus mencuci tangan dengan benar, dan memakai masker bila anda mendapatkan beberapa gejala.

Dia memprediksi bahwa bila kita mengenakan masker di manapun berada, mungkin tidak perlu banyak orang untuk divaksinasi. 

"Menutup mulut saat batuk, pakai masker, cuci tangan, dan bersihkan area yang ditinggali secara teratur,” ujarnya.

“Ketersediaan vaksin sendiri bukanlah sebuah ‘peluru perak’,” kata Dr. Wen, "walaupun ini bisa berarti bahwa akhir dari pandemi ada di depan mata.”

Post a comment

0 Comments